Sondag 12 Mei 2013

MITOS DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF



MITOS DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF (JOHNSON AND JOHNSON,1984:73)

Banyak asumsi yang tidak benar mengenai pembelajaran kooperatif, mengenai tentang bagaimana sekolah seharusnya dan bagaimana siswa dilatih untuk melakukan pembelajaran kooperatif ini. Pembahasan kali ini menyangkut serangkaian pertanyaan berdasarkan asumsi yang salah dan mengeksplorasi beberapa mitos tentang sekolah dan mengajar.


1.Sekolah Harus Menekankan Persaingan
            Dalam sebuah artikelnya Ted Panitz (1996) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu filsafat personal, bukan sekadar teknik pembelajaran di kelas. Menurutnya, kooperatif adalah filsafat interaksi dan gaya hidup yang menjadikan kerjasama sebagai suatu struktur interaksi yang dirancang sedemikian rupa guna memudahkan usaha kolektif untuk mencapai tujuan bersama”. Dari kutipan diatas dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah belajar secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama, jadi jelas bahwa belajar kooperatif  tidak menekankan persaingan tapi lebih menekankan pada pencapaian tujuan bersama. Sebagai contoh sebuah kelompok belajar didalam kelas diberi tugas membuat ringkasan, disini guru tidak menilai ringkasan kelompok mana yang paling baik tapi guru mengharapkan setiap kelompok bisa membuat ringkasan sesuai waktu yang sudah ditentukan,inilah sebagai tujuan.


2.Siswa Yang Berkemampuan Dibebani Dengan Bekerja Dalam Kelompok Belajar Yang Hetergen
            Pada segala situasi, ketika sejumlah orang berada dalam suatu kelompok, kooperatif merupakan suatu cara untuk berhubungan dengan saling menghormati dan menghargai kemampuan dan sumbangan setiap anggota kelompok. Di dalamnya terdapat pembagian kewenangan dan penerimaan tanggung jawab diantara para anggota kelompok untuk melaksanakan tindakan kelompok. Para praktisi pembelajaran kooperatif memanfaatkan filsafat ini di kelas, dalam rapat-rapat komite, dalam berbagai komunitas, dalam keluarga dan secara luas sebagai cara hidup dengan dan dalam berhubungan dengan sesama. John Myers (1991)” merujuk pada kamus untuk menjelaskan definisi cooperative yang berasal dari akar kata Latin dengan makna yang menitikberatkan proses kerjasama”. Dari yang disampaikan John Myers(1991) sudah tampak jelas bahwa pembelajaran kooperatif adalah proses belajar bersama dalam artian setiap individu mempunyai kewenangan dan tanggung jawab melaksanakan setiap tugas yang dibebankan pada setiap anggota kelompok. Dengan kata lain tidak ada siswa secara individual yang akan terbebani dengan tugas yang diberikan guru. Menurut Johnsons (1974)”Saling ketergantungan positif”. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab:
a.       Menguasai bahan pelajaran
b.      Memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.



3.  Setiap Anggota Melakukan Tugas Dan Mendapatkan Nilai Yang Sama.
            Menurut Johnsons (1974),” Interaksi langsung antarsiswa”. Hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Pertanggungajawaban individu. Agar dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok. Keterampilan berkooperatif. Keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai keterampilan kooperatif, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kooperatif. Keefektifan proses kelompok. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah. John Hopkins University,“Learning Together”. Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.

4. Nilai Kelompok Dibagi Dengan Jumlah Anggota Kelompok
John Hopkins University Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok”. Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa nilai kelompok tidaklah dibagi dengan jumlah kelompok tapi nilai kelompok diperoleh dari seberapa besar usaha kelompok untuk mendapat nilai terbaik.

5. Pembelajaran Kooperatif Itu Mudah
Dapat direkonstruksi unsur-unsur pembelajaran kooperatif sebagai berikut: suatu filsafat pengajaran, bukan serangkaian teknik untuk mengurangi tugas guru dan mengalihkan tugas-tugasnya kepada para siswa. Hal terakhir ini perlu ditekankan karena mungkin begitulah kesan banyak orang tentang pembelajaran kooperatif. Mereka merasa bahwa tidak ada yang dapat menandingi pembelajaran konvensional, yang menempatkan guru sebagai satu-satunya pemegang otoritas pembelajaran di kelasnya.
Meskipun demikian, tidak ada maksud untuk meremehkan seluruh metode pembelajaran konvensional (tradisional). Namun, pembelajaran konvensional kurang efektif untuk menumbuhkembangkan minat belajar siswa terhadap bahan-bahan pembelajaran. Mungkin saja para siswa mempelajari lebih banyak materi pelajaran dalam pembelajaran konvensional, tetapi mungkin pula mereka akan segera melupakannya jika tidak terinternalisasi dalam perubahan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang dipelajari. Gagne (1992:6)”mengartikan pembelajaran bertolak Dari hakikat belajar sebagai berikut: Perubahan perilaku manusia dan dalam kemampuan mereka untuk perilaku tertentu mengambil tempat berikut pengalaman mereka dalam situasi indentifiable tertentu. Situasi ini merangsang individu sedemikian rupa untuk membawa tentang perubahan dalam perilaku. Proses yang membuat perubahan tersebut terjadi disebut belajar, dan situasi yang menentukan proses berlakunya disebut situasi belajar.
Dengan demikian, pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai filsafat pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerjasama, saling membina, belajar dan berubah bersama, serta maju bersama pula. Inilah filsafat yang dibutuhkan dunia global saat ini. Bila orang-orang yang berbeda dapat belajar untuk bekerjasama di dalam kelas, di kemudian hari mereka lebih dapat diharapkan untuk menjadi warganegara yang lebih baik bagi bangsa dan negaranya, bahkan bagi seluruh dunia. Akan lebih mudah bagi mereka untuk berinteraksi secara positif dengan orang-orang yang berbeda pola pikirnya, bukan hanya dalam skala lokal, melainkan juga dalam skala nasional bahkan mondial.
Pembelajaran kooperatif memudahkan para siswa belajar dan bekerja bersama, saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara kelompok maupun individu. Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tidaklah mudah.

6. Sekolah Dapat Berubah Dalam Sekejap
            Sekolah dapat dipandang sebagai “masyarakat mini”, tempat para siswa belajar mengaktualisasikan diri dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Lebih kecil lagi, dalam kegiatan belajar mengajar, lingkungan kelas pun merupakan setting sosial untuk mendukung konstruksi pengetahuan, sebagaimana dikatakan Waras (1997): “Lingkungan belajar juga mencakup organisasi sosial dan interaksi antara siswa-guru dan siswa-siswa.”
Mengutip pandangan Driver dan Leach (1993) serta Connor (1990), Waras (1997) merinci karakteristik lingkungan kelas yang berperspektif konstruktivis antara lain sebagai berikut:
  1. siswa tidak dipandang secara pasif, tetapi aktif untuk belajar mereka sendiri – mereka membawa konsepsi mereka ke dalam situasi belajar;
  2. belajar mengutamakan proses aktif siswa mengkonstruksi makna, dan acapkali dengan melalui negosiasi interpersonal;
  3. pengetahuan tidak bersifat “out there”, tetapi terkonstruk secara personal dan secara sosial;
  4. guru juga membawa konsepsi mereka ke dalam situasi belajar, tidak hanya dalam hal pengetahuan mereka, tetapi juga pandangan mereka terhadap belajar dan mengajar yang dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan siswa di dalam kelas;
  5. pengajaran bukan mentransmisi pengetahuan tetapi mencakup organisasi situasi di dalam kelas dan desain tugas yang memudahkan siswa menemukan makna; dan
  6. kurikulum bukan sesuatu yang perlu dipelajari tetapi program-program tugas belajar, bahan-bahan, sumber-sumber lain, dan wacana dari mana siswa mengkonstruk pengetahuan mereka.
Demikianlah dalam pembelajaran kooperatif diciptakan lingkungan sosial yang kondusif untuk terlaksananya interaksi yang memadukan segenap kemauan dan kemampuan belajar siswa. Lingkungan yang dibentuk berupa kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat atau lima siswa pada setiap kelas dengan anggota-anggota kelompok yang sedapat mungkin tidak bersifat homogen. Artinya, anggota-anggota suatu kelompok diupayakan terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan, siswa yang relatif aktif dan yang kurang aktif, siswa yang relatif pintar dan yang kurang pintar. Dengan komposisi sedemikian itu dapat diharapkan terlaksananya peran tutorbeserta tutee antarteman dalam setiap kelompok. Setiap kelompok bersifat heterogen jadi akan membutuhkan proses penyatuan pemahaman yang lama. Sekolah memberikan kebebasan kepada guru untuk meggunakan metode pembelajaran kooperatif sehingga tercapai apa yang diharapkan yaitu perubahan prestasi sekolah. Namun, hal ini tidak lah mudah,ini membutuhkan proses baik siswa, guru maupun sekolah.


Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking